18 Okt 2010

Perfect Melancholy (part III)

Indigo dan Attention deficit hyperactivity disorder (ADHD), Perfect melancholy dan autis      
Jadi beberapa teori dan buku-buku psikologi tentang sifat dasar manusia telah menempatkan saya kepada keperibadian Melankolis sempurna (perfect melancholy) __part I__. Kemudian sifat melankolis ini membawa saya pada sebutan Indigo dan posesif __part II__ sekali lagi saya tekankan kalaupun sekarang saya mengakui keindigoan yang selama ini saya tentang habis-habisan itu bukan karena saya benar-benar mempunyai kemampuan gaib atau mampu berbicara puluhan bahasa tanpa belajar. Karena orang-orang selama ini salah kira soal indigo. Indigo itu lebih condong digunakan dalam perilaku (bukan indera ke enam )  dan istilah indigo sebenarnya tidak dikenal di dalam dunia psikologi. Lalu psikolog menyebutnya apa? mreka meneliti kebanyakkan anak indigo hanya mengalami  ADHD ini, tapi tetap mengalami pertentangan dengan penganut teori indigo.  humm.. apa sebenarnya ADHD ini?

ADHD berawal dari hasil penelitian Prof. George F. Still, seorang dokter Inggris pada tahun 1902. ADHD ( Attention Deficit Hyperactivity Disorder ) adalah salah satu kondisi neurologis yang melibatkan gangguan pada proses memusatkan perhatian dan perilaku hiperaktivitas dan impulsivitas. Sederhananya ADHD itu seperti gangguan kekurangan perhatian/gangguan hiperaktif dan kekurangan perhatian.  huahhh... ini sudah disebut kelainan ( penyakit ) bahkan beberapa orang menyamakan ADHD dengan Autis (HFA) hahhaha.. saya jadi teringat disitus-situs tertentu banyak sekali seorang perfect melancholy mengerutu karena semua orang menyebutnya seperti odang Autis, ada lagi yang menyebutkan ADHD lebih cenderung kepada Asperger ( AS ) tetapi sampai sekarang masih ada perdebatan apakah HFA = AS ( huff..... saya tidak menyukai bagian ini ) saya yang tidak terlalu mengerti soal itu hanya bisa berkata :
Apa ini karena ilmu dokter di dunia yang terbatas? Atau memang ilmu tentang syaraf manusia ini sangat luas?
ADHD sendiri sudah terbagi menjadi 3 jenis sampai sekarang..

lalu apa sih sebenarnya ciri-ciri ADHD *komat - kamit baca mantra semoga tidak ada satupun ciri-cirinya ada padaku * :
1. Selalu bergerak, dan gerakan-gerakannya tidak beraturan, tidak terkontol serta tanpa sebab yang jelas.
  hooooo?? saya tidak seperti itu maksudku anak indigopun tidak seperti itu, mereka cenderung lebih tenang daripada anak-anak lain. dari semua ciri indigo yang saya baca tidak ada yang menyebutkan indigo adalah anak yang selalu bergerak kecuali  buku The Indigo Children, Doreen Virtue, Ph.D yang menyebutkan salah satu ciri indigo adalah  Tidak bisa diam kecuali mereka menyatu dalam sesuatu hal yang sesuai dengan minatnya. Itu tentu saja berbeda dengan penderita ADHD.
2. Sering lupa terhadap segala hal, disebabkan kekurangmampuan untuk berkonsentrasi sehingga hal tersebut kurang pula diperhatikannya.
ahaha...saya selalu melakukan sesuatu dengan terjadwal. jarang sekali saya melakukan kekonyolan karena lupa. memang saya pernah lupa tapi tidak terhadap segala hal seperti yang ditulis itu. Pelupa itu hanya milik Sanguinis bukan perfect melancholy.
3. ADHD mempunyai ketidakmampuan belajar dan sekitar 80% mempunyai masalah akademis.
ckckckk..... tidak perlu dijelaskan lagi ini benar-benar salah kaprah.
4. anak-anak dengan ADHD sering mengalami isolasi sosial sehingga harga dirinya cenderung rendah.
Anak indigo memang mengalami isolasi sosial tapi karena pembicarannya memang jauh melampaui anak-anak sebayanya, sehingga mereka biasanya tidak mau bermain bersama anak-anak sebayanya sedangkan ADHD Isolasi sosial dapat muncul karena anak-anak yang hiperaktif terkadang cenderung agresif dan kurang dapat mengikuti aturan atau menunggu giliran.
dan ada beberapa ciri lain yang tidak saya tuliskan disini tapi intinya ADHD adalah anak yang hiperaktif saya dapat pastikan sikap - sikap yang mereka maksud tidak mengarah keindigo seperti Kecerobohan dalam hubungan sosial, melakukan sesuatu tanpa dipikir terlebih dahulu, Kerjanya mungkin berantakan, dengan kesalahan serampangan dan ketiadaan pemikiran yang dipertimbangkan dll. (flughh..jelas-jelas ini tidak pernah kualami )

apalagi autis kalaupun ada beberapa kesamaan indigo dengan autis jelas sekali penderita autis memang tidak mempunyai kemampuan untuk itu sedangkan perfect melancholy dan indigo mempunyai kemampuan tapi mempunyai pemikiran yang berbeda jadi menolak melakukan hal-hal demikian. kesamaan lainnya kebiasaan berbicara sendiri yang ditafsirkan kalau ia sedang bicara dengan makhluk ghaib. Kondisi ini sepintas mirip dengan anak autis yang kadang bicara sendiri. Namun kalau anak indigo omongannya terarah, sementara anak autis tidak terarah dan cenderung ngaco.

berikut beberapa fakta yang saya rangkum dari beberaapa pernyataan dan berita-berita tentang indigo yang mungkin bisa mematahkan pernyataan yang menyamakan anak indigo dengan penderita ADHD:
Ada anak indigo yang dianggap autis, ADHD (Attention-Deficit Hyperatictve Disorder) maupun ADD (Attention Deficit Disorder). Padahal tanda-tandanya berbeda. Kekeliruan semacam ini juga terjadi di AS, karena banyak ahli menganggap anak-anak itu menderita ”gangguan” yang harus dihilangkan.  Sebagian kalangan medis menyatakan bahwa anak indigo mengalami kerusakan pada bagian otaknya. Namun indigo bukan penyakit. Badan Kesehatan Dunia (WHO),  bahkan tidak mencantumkan indigo dalam international classification of diseases. Lantaran indigo bukan penyakit tak perlu dilakukan terapi untuk menyembuhkan anak indigo.

kalaupun dikemudian hari ada persepsi seperti ini :  "Sepertinya Anak indigo hanya sebagai pembelaan diri orang tua yang tidak bisa menerima bahwa anaknya memiliki kelainan secara psikologis." <=== hanya orang yang tak pernah mengalami yang bicara seperti ini.

"kalau hanya ciri-ciri seperti itu banyak sekali orang indigo" <=== benar memang  banyak orang indigo seperti banyaknya seorang mempunyai keperibadian melankolis sempurna. tapi tidak semua orang kan?

Terakhir saya katakan memang tidak salah kita berpendapat, tidak salah menertawakan sebuah teori tapi, kepercayaan adalah kebebasan kita sebagai manusia, kepercayaan adalah hak.