Indigo adalah anak yang menunjukkan seperangkat atribut psikologis baru dan luar biasa, serta menunjukkan sebuah pola perilaku yang pada umumnya tidak didokumentasikan sebelumnya. kemungkinan besar berarti menciptakan ketidakseimbangan dan frustasi dalam benak dari kehidupan baru yang berharga ini.Juga disebut “Children of the Sun” oleh para ahli dari Amerika Atau disebut juga sebagai “Millennium Children”.
beberapa ciri-ciri anak indigo:
1.Lebih dewasa dari anak-anak lainnya.
2.Mengerti jika dirinya layak untuk berada di dunia
3.Frustasi dengan sistem yang sifatnya ritual dan tidak kreatif.
4.Sebagian besar adalah orang yg menimbulkan rasa tidak nyaman.
5.Punya empati yang kuat terhadap sesama, atau tidak punya empati sama sekali.
dll
ciri-ciri indigo dewasa:
1.Mereka pintar walaupun tidak selalu berada di tingkatan paling atas.
2. Punya hasrat yang membara untuk merubah dunia, tapi kesulitan menemukan jalurnya.
3.Frustasi dengan budaya tradisional.
4.Punya masalah dengan amarah.
5.Muak dengan sesuatu yang berulang-ulang.
dll
http://www.wikimu.com/News/DisplayNews.aspx?id=10142

Tentu saja aku tidak terima keluarga besarku menyebutku Indigo hanya karena pohon manggis itu. Saat itu aku sama sekali tidak mempercayai hantu dan setan, yang kulukis itu sama sekali bukan teman bermainku, seperti yang dikatakan orang-orang udik di kampungku. Kalaupun ada yang mendapatiku berbicara sendiri, huff... bukankah anak-anak memang sering berbicara sendiri sama seperti anak kecil yang bicara dengan bonekanya, tapi waktu itu aku berbicara dengan imajiku, berbicara bersama pikiran-pikiranku yang melesat seperti samabaran petir. Kalaupun mereka melihatku tidak berbaur dengan anak-anak lainnya, mecari sudut diantara keramaian sampai membuat Ibuku menatapku kasihan di sudut kelas. Bukan karena aku minder atau karena aku tidak ada yang mau berteman denganku, tapi aku benci tingkah anak-anak itu. Dan itu hakku kan? mereka suka tertawa keras sekali sekaligus bisa dengan gampang menangis tidak kalah keras dari bel sekolah. Orang dewasa juga tidak kalah menggelikan.

Tapi setelah membaca buku tentang ciri-ciri anak Indigo, bisa dibilang mereka tidak salah mengecapku indigo akan tetapi bukan indigo seekstrem perkiraan mereka yang bisa melihat makhluk gaib (aku sama sekali tidak mempunyai kemampuan khusus itu) ya ya sampai saat ini aku berusaha keras mengingat "apakah aku benar-benar pernah berbicara dengan makhluk gaib?" sampai pening kepalaku juga aku tidak bisa menjawabnya. Kalaupun waktu kecil aku pernah merasakan sesuatu yang terus berbicara padaku/ mengarahkanku itu tidak lain adalah pikiranku sendiri.

Sejak pindah ke Pagar alam ada yang berubah dari prilakuku. Aku berontak pada hidup. Aku hanya berusaha berkreativitas dengan lukisanku tapi disebut Indigo oleh semua orang. Sebenarnya tidak masalah dengan sebutan indigo itu (saat itu aku juga tidak terlalu paham apa itu 'indigo'?), tapi kalau tiba orang-orang udik ini menyebutku telah berteman dengan setan dan aku punya indera ke-6 dan disejajarkan dengan para dukun-dukun yang suka bersemedi itu tambahanlagi teman-teman sekelasku ngibrit ketakutan ketika melihatku tentu itu membuat posisi keluargaku semakin tidak nyaman. Sejak pohon manggis itu tumbang maka tumbang juga keinginanku untuk melukis. Sejak aku pindah sekolah di kelas V, aku benar-benar tidak menginginkan sekolah lagi. tapi bagaimanapun aku harus sekolah. Jika tidak aku akan mempermalukan orang tuaku lagi di tempat yang baru ini.
Di sekolah baruku aku tidak mengalami kesulitan yang berarti hanya saja aku tidak menemukan tempat khusus untuk berbincang-bincang bersama Imaji.Helin, Pajrin, Intan, Ayu, Debbi mereka mamasukanku dalam daftar 6 sahabat Tentu saja aku tidak mengerti kenapa aku bisa masuk dalam daftar cewek-cewek populer di sekolah *??* dan aku juga tidak mengerti tiba-tiba ditunjuk jadi tim lomba Voli sekota pagaralam, padahal aku sama sekali tidak bisa mengendalikan bola mencapai Net. Aku sama sekali tidak menginginkannya. Terlalu menjadi pusat perhatian? Aku membenci itu. Tapi, mereka semua sangat baik untuk ku benci seketika. Walaupun aku benci sekolah tapi prestasiku tidak terlalu buruk di sekolah itu. ya ya tidak sebaik dulu. Awalnya aku tidak pernah menganggap penting persahabatan kami berenam. Mereka hanya senjataku untuk bisa diterima dilingkungan sekolah *mereka tidak tahu ini*. Mereka anak-anak luar biasa *soalnya aku menebut diriku biasa*. Karena mereka, pertama kalinya ada teman sekolahku mampir ke rumah. Mereka bermain Barbie di rumahku hampir setiap hari *sangat tidak menarik* aku memperhatikan anak-anak ajaib ini bermain barbie. Aku memilih bagian membuat baju Barbie, aku mendesign baju-baju mini itu. Kata Ayu aku berbakat menjadi Designer. Sejak itulah kalau ditanya cita-cita oleh guru aku akan menjawab Designer. Di sekolah sebelumnya aku pernah ditertwai ketika ditanyai cita-cita maka aku akan menjawab mengelilingi dunia dengan menggunakan sayap sendiri, Menjelajahi dasar samudera dan luar angkasa Dan tentu saja mengubah dunia itu impianku sekaligus menjadi cita-citaku dan aku masih punya ratusan Impian lagi yang kutulis dalam sebuah jurnal harianku. Aku sangat tertekan menjawab 'DESIGNER'.Dikemudian hari aku menyadari ke lima sahabatku itu adalah mentorku yang luar biasa. Mereka bersedia meminjamkan penanya ketika penaku hilang. Mereka tidak pernah marah padaku ketika aku bertingkah menyebalkan. Mereka menghargai semua pemikiran orang lain. aku berbeda

Entahlah ini ada hubunganya dengan melankolis sempurna atau tidak. Sejak kecil kira-kira umur 4 tahun. aku telah membuat keputusan menyukai sabun mandi berwarna putih *Poeng!!!*. hahaha... pokoknya sperti itulah. Ini pertama kalinya aku menceritakan kebiasaanku ini. Tapi, sumpah aku tidak akan memakai sabun mandi dengan warna lain walaupun terlihat aneh tapi Ibuku menuruti itu. Bisa dibayangkan demi mengurusku ibu mengalami sedikit kesulitan hanya untuk membeli sabun mandi. Kalau bermalam di rumah saudara lainnya, Ibuku harus membawa sabun mandi yang saharusnya tidak perlu dibawa. Sekarang aku tidak keberatan lagi memakai sabun mandi dengan warna apapun bila berada dirumah orang lain. Aku belajar mengendalikan kebiasaanku yang aku tidak tahu berawal darimana. Tapi, sampai sekarang kalau dirumah aku menggunakan sabun mandi secara terpisah dari anggota keluargaku lainnya. Pernah aku merasakan perasaan tidak diterima dikeluarga sendiri, tetapi menyaksikan mereka tidak keberatan memakai sabun mandiku. Hanya aku yang menolak warna sabun mereka dan hanya aku yang menyebut sabun mandi dirumah dengan sebutan
Sabun mandiku.
Aku mengatur semua barang dikamarku menurut struktur imajinatif yang kubayangkan. Aku tahu persis bila ada barang yang tidak sesuai dengan tempatnya dikamarku, Jika ada orang yang merasa susunan barang dikamarku tidak tepat maka dia mencoba memperbaikinya, maaf sekali aku akan memarahinya habis-habisan. menurutku sikap seperti itu sama saja dengan mengkritikku dan aku tidak suka dikritik.
Posesif adalah orang menguasai orang lain. mengapa aku bisa jadi posesif? tentu saja karena sifat dasarku adalah melankolis sempurna. Jadi sebenarnya banyak orang yang tidak kuanggap penting dalam hidupku. Tapi ketika aku merasa mereka penting maka timbulah rasa posesifku. Meminta mereka melakukan apa yang kukehendaki, tanpa merasa bersalah.Aku tidak mau tahu tentang apapun yang ingin mereka katakan padaku, tapi aku selalu mendapati mereka ingin melarikan diri. Kadang-kadang semua itu membuatku kebingungan sendiri.
Sebenarnya perlu waktu lama untuk bisa menilaiku sebagai orang yang posesif sobat SMAku (Sri) yang menilaiku posesif dan berujung dia ikut-ikutan posesif terhadapku. Tapi, aku bukan sahabat yang buruk juga baginya buktinya selama di SMA kami duduk satu meja 3 tahun, beberapa orang iri melihat betapa akrabnya kami, bahkan ada yang seenaknya mengatai kami lesbi.
Orang kedua yang menilaiku posesif (tidak perlu kusebutkan namanya). Dia sekaligus menjadi orang pertama yang berani-beraninya mengusik duniaku. Dia meneror pikiranku tiap detik. Mengendap-endap memasuki wilayah kehidupanku kemudian menyatakan keinginannya bisa hidup di dunia yang sama denganku. Cukup lama aku membiarkannya berkeliaran di duniaku, tetapi semakin lama dia semakin berisik untuk tinggal di duniaku yang begitu hening. Dia juga punya pemikiran yang dangkal, berbeda dengan para Melancholic yang mendalam. Apalagi dia mulai mencoba mengubah duniaku dengan dalih memperbaiki (memperbaiki? maksudanya ada yang salah dengan duniaku gitu?) . Tidak. tidak ada yaang salah dengan duniaku, yang salah adalah kenapa semua orang tidak sama denganku!!!
Orang ketiga yang menilaiku posesif adalah sobatku di facebook
Canniball (bkn nm sbnarnya hihi...). Dalam waktu singkat bahkan belum pernah bertemu -entah asal bicara atau serius- dia seenaknya menempelkan kata posesif dikeningku. Bahkan dia menjelaskan arti kata posesif dengan sempurna menurutku. Dikemudian hari aku tahu dia juga Perfect Melancholy dan dia juga posesif (bahkan lebih parah dariku).
hmmmm.... sudah lama aku ingin menemukan orang yang sama sepertiku.Kami bersahabat. Sama seperti persahabatan pada umumnya. Kami meributkan hal-hal yang sepele.Kami Melankolis bisa menyukai sesuatu secara berlebihan dan membenci sesuatu secara berlebihan. Aku dan cannibal juga punya kesukaan yang sama. Ada juga kesukaanku yang tidak disukainya dan sebaliknya, kemudian kami akan meributkannya setiap hari. Aku pikir melankolis laki-laki dan perempuan berbeda ternyata tidak juga. Cannibal memahami drama
sorry.. I love u, A love to kill, can and abel dll secara berlebihan bahkan mungkin lebih paham dari penulisnya. Kami para melankolis mampu menangis berulang-ulang hanya karena drama itu. Beberpa kali kami mengalami kejadian penting secara bersamaan (entah itu kebetulan atau apa). Walaupun kami tidak saling menyapa lagi, Cannibal adalah mentorku juga sama seperti kalian.
- Sifat Melancholic dan mentor-mentor terbaik
Sesungguhnya semua orang yang ada dalam tiap detik kehidupanku adalah mentorku. Tapi memang ada yang lebih spesial dari yag lainnya. Kalau ada kesempatan aku akan menulis Part 3 khusus untuk para mentorku ini. Mentor terbaikku adalah Ibuku. Kdrama, Jdrama, Mdrama, film2 inspiratif, novel, buku-buku lainnya adalah mentorku. Orang-orang yang melewatkan waktu bersamaku adalah mentorku. Semuanya menjadi inspirasi terbaikku, bahkan mungkin sebagian menuntutku. Semua itu membuat sifat melankolisku telah terjadi kombinasi. kombinasi lain yang tidak alami. Jadi, perfect Melancholy itu mungkin tidak 99% lagi apalagi stempel indigo itu tidak ada lagi (bahkan beberapa dari mereka telah lupa pernah mengataiku indigo)